Sea, nama gadis itu..
Ia tak pernah berpikir akan sesakit ini..sebelumnya ia pikir mencintai Sunset-nya membuat air matanya tak mudah jatuh, namun ternyata Sea salah..lelaki yang biasa dipanggilnya Sunset ternyata kini dengan tega menyakiti hatinya..
Sekuat tenaga Sea berusaha menahan rasa sakit itu agar butiran bening tak menetes di pipinya, namun sekuat itu juga air matanya bergantian menetes membasahi pipinya yang kemerah-merahan..
"Salahkah jika aku begini ? Salahkan jika aku tak kuasa menahan perasaan ini ?
Salahkan jika akhirnya aku menangisimu ?" Begitu pikir Sea di sore itu.
Sea tak tau apakah ia salah atau tidak, yang Sea tau, ia tak kuat melihat kenyataan sore itu.
"Kenapa harus sekarang ? Kenapa harus kau perlihatkan ?" lagi-lagi Sea bergumam dalam hati.
Sea berusaha berdamai dengan hatinya saat itu, ia pura-pura tak terjadi apa-apa bahkan saat melihat Sunset-nya duduk berdua dengan gadis berbaju kuning keemasan itu tepat didepannya..
"Aku tak percaya kamu begini, bahkan untuk berpikir kamu akan melakukan ini saja aku tak pernah" Sea berdialog dengan hatinya.
Sunset-nya yang selama ini ia percaya akan membuatnya kuat, namun sekarang malah sebaliknya, ia membuat Sea rapuh, rapuh yang serapuh-rapuhnya..
"Aku benci dengan kerapuhan ini" Sea berusaha menahan perih yang menusuk hatinya.
Sea selalu berpikir, Kenapa ia tak pernah bisa melawan hati ?
Haruskah ia menangis setiap teringat kenangan bersama Sunset-nya ?
Haruskah ia menangis saat melihat Sunset-nya bersama gadis berbaju kuning keemasan itu ?
Apakah Sea bisa tegar dari kerapuhan ini ?
Sejujurnya Sea tak ingin menjadi hancur karena mencintai Sunset-nya..
Sea masih tak percaya dengan semua kejadian yang dilihatnya sore itu, sungguh tak percaya..
Jika ada yang bertanya padanya, "Sea, apakah kau melihat Sunset-mu sore itu ?"
"Tidak, aku tidak melihat Sunset-ku..aku tidak melihatnya saat bersama gadis berbaju kuning keemasan itu, karena aku tau Sunset-Ku takkan memperlakukanku seperti di sore itu".. Itulah jawaban yang akan diberikan Sea, karena Sea tak percaya Sunset-nya akan begitu..
"Itu bukan kamu, itu bukan Sunset-ku, karena aku percaya Sunset-ku takkan biarkan aku meneteskan air mata" Sea masih tetap teguh pada keyakinannya bahwa Sunset-nya masih tetap setia dan takkan pernah menyakiti Sea-nya, karena Sea adalah tempat pulang bagi Sunset, selamanya Sea percaya bahwa Sunset-nya takkan pernah lupa jalan pulang (!)

Duuhhh... ceritanyaaa piluuuu.....
ReplyDelete